Abrar4lesson4tutorial4ever’s Blog

HIDUPMU INDAH BILA KAU TAU…HARAPAN ADA BILA KAU MENGERTI

TEKNIK LINGKUNGAN Februari 16, 2010

  1. I. Pengertian Air Bersih dan Air Minum

1. Pengertian Air Bersih

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005  Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, pada BAB 1 tentang pengembangan sistem penyediaa  air minum, Pasal 1, Ayat 1 :

Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan yangmemenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk airminum.

Air bersih disini kita kategorikan hanya untuk yang layak dikonsumsi, bukan layak untuk digunakan sebagai penunjang aktifitas seperti untuk MCK. Karena standar air yang digunakan untuk konsumsi jelas lebih tinggi dari pada untuk keperluan selain dikonsumsi. Ada beberapa persyaratan yang perlu diketahui mengenai kualitas air tersebut baik secara fisik, kimia dan juga mikrobiologi.

Air bersih adalah air yang dipergunakan untuk keperluan sehari hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum,  dimana persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi kualita fisik, kimia, biologis dan radiologis. Sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping.

2. Pengertian Air minum

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005  Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, pada BAB 1 tentang pengembangan sistem penyediaa  air minum, Pasal 1, Ayat 2 :

Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

Yang membedakan antara kualitas air bersih dan air minum adalah standar kualitas setiap parameter fisik, kimia, biologis dan radiologis maksimum yang diperbolehkan .

  1. II. AIR BERSIH

Syarat Penyediaan Air Bersih

Ada beberapa persayaratan utama yang harus dipenuhi dalam sistem penyediaan air bersih. Persyaratan tersebut adalah : Persyaratan kualitatif, Persyaratan kuantitatif, dan Syarat kontinuitas.

A. Persyaratan Kualitatif

Syarat kualitatif adalah persyaratan yang menggambarkan kualitas dari air baku ( air bersih ). Persyaratan ini meliputi syarat fisik, Kimia, Biologis dan Radiologis.

  1. Syarat Syarat Fisik

Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya.Cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.

a. Kejernihan

Kualitas estetika air tergantung pada kejernihannya dan karakteristik alirannya. Ada 2 macam warna pada air yaitu apparent color (suspensi zat organik)  dan true color (suspensi zat anorganik ) .  Air jernih dan murni sangat diperlukan aliran air yang deras  dianggap lebih menarik secara visual daripada air yang  statis dan lambat alirannya.  Aliran air yang deras dapat sedikit mengatasi efek buruk akibat turbiditas dan bau.  Debu, sedimen dan algae dapat mengurangi kualitas air secara fisik. Selain itu, keputusan kualitatif juga harus diambil terhadap kejernihan air, yaitu jernih, moderat, agak keruh atau keruh.

b. Rasa

Dalam air yang bersih ( fisik ) tidak terdapat seperti rasa asin, manis,pahit dan asam. Begitu pula terhadap bau. Air dapat dikatakan bersih secaa fisik apabila air tersebut tidak mengeluarakan bau, seperti bau amis, busuk, dan sebagainya.

c. Turbiditas

Turbiditas merupakan suatu ukuran yang menyatakan sampai seberapa jauh cahaya mampu menembus air , dimana cahaya yang menembus air akan mengalami “pemantulan” oleh bahan-bahan tersuspensi dan bahan koloidal.  Satuannya adalah Jackson Turbidity Unit (JTU), dimana 1 JTU sama dengan turbiditas yang disebabkan oleh  1 mg/l SiO2 dalam air.  Dalam danau atau perairan lainnya yang relatif tenang, turbiditas terutama disebabkan oleh bahan koloidan dan bahan-bahan hakus yang terdispersi dalam air.  Dalam sungai yang mengalir , turbiditas terutama disebabkan oleh bahan-bahan kasar yang terdispersi. Turbiditas penting bagi kualitas air permukaan, terutama berkenaan dengan pertimbangan estetika, daya filter, dan disinfeksi.  Pada umumnya kalau turbiditas meningkat,  nilai fisik menurun, filtrasi air lebih sulit dan mahal, dan efektivitas desinfeksi berkurang.  Turbiditas dalam perairan mungkin terjadi karena material alamiah, atau akibat aktivitas proyek, pembuangan limbah, dan operasi pengerukan.

d. Tempratur

Temperatur merupakan derajat panas atau dinginnya air yang diukur pada sekala definit seperti derajat celsius (0C) atau derajat Fahrenheit (0F). Temperatur air merupakan regulator utama proses-proses alamiah di dalam lingkungan akuatik. Ia dapat mengendalikan fungsi fisiologis organisme dan berperan secara langsung atau tidak langsung bersama dengan komponen kualitas air lainnya mempengaruhi kualitas akuatik.  Temperatur air mengendalikan spawning dan hatching, mengendalikan aktivitas, memacu atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan; dapat menyebabkan kematian kalau air menjadi panas atau dingin sekali secara mendadak.  Air yang lebih dingin lazimnya menghambat perkembangan; air yang lebih panas umumnya mempercepat aktivitas.  Temperatur air juga mempengaruhi berbagai macam reaksi fisika dan kimiawi di dalam lingkungan akuatik.

  1. Syarat Kimiawi

Air Baku (air bersih layak minum ) tidak boleh mengandung bahan bahan kimia dalam jumlah yang melampaui batas. Beberapa persyaratan kimia tersebut antara lain :

a. pH

pH suatu larutan mencerminkan aktivitas kation hidrogennya, dan dinyatakan sebagai logaritma negatif dari aktivitas kation hidrogen dalam mole per liter pada suhu tertentu.  Istilah pH lazimnya digunakan untuk  menyatakan intensitas kondisi asam atau alkalin suatu larutan.  Kalau pH antara 1 dan 7, ini merupakan kisaran asam, dan kisaran alkalin adalah pH 7 – 14.  pH air permukaan air biasanya berkisar antara 6.5 – 9.0, pada kisaran tersebut air bersir masih layak untuk diminum (dimasak ). penentuan pH sangat berpengaruh terhadap korosi ( pengaratan ) yang biasanya terjadi pada pipa distribusi air.

b. Salinitas ( zat padat total )

Salinitas didefinisikan sebagai total padatan dalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida diganti dengan klorida, dan semua bahan organik telah dioksidasi. Satuan untuk salinitas lazimnya adalah g/kg atau satu per seribu. Salinitas merupakan peubah penting dalam perairan pantai dan estuarine, dan perubahan salinitas dapat menyebabkan perubahan kualitas ekosistem akuatik, terutama ditinjau dari tipe-tipe dan kelimpahan organisme.  Salinitas harus digunakan sebagai parameter pendugaan dampak  untuk semua proyek pengembangan sumberdaya air yang berhubungan dengan  perairan pantai dan estuaria. Biasanya bahan yang tertinggal sebagai residu pada penguapan dan pengeringan terjadi pada suhu 103 – 105 0C.

c. Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut mungkin merupakan parameter kualitas air yang paling umum digunakan. Kelarutan oksigen atmosfer dalam air segar/tawar berkisar dari 14.6 mg/liter pada suhu 0 0C hingga 7.1 mg/liter pada suhu 35 0C pada tekanan satu atmosfer.  Rendahnya kandungan oksigen terlarut dalam air berpengaruh buruk terhadap kehidupan akuatik dan kalau tidak ada sama sekali oksigen terlarut mengakibatkan munculnya kondisi anaerobik dengan bau busuk dan permasalahan estetika. Di bawah 3 mg/liter, penurunan lebih lanjut hanya penting dalam kaitannya dengan munculnya kondisi anaerobik lokal. Kerusakan utama terhadap kehidupan akuatik telah terjadi pada kondisi seperti ini.  Di atas 6 mg/liter, keuntungan utama dari penambahan oksigen terlarut adalah sebagai cadangan atau penyangga untuk menghadapi “shock load” buangan limbah yang membutuhkan banyak oksigen.

d. BOD

BOD didefinisikan sebagai jumlah oksigen (mg/l) yang diperlukan oleh bakteri untuk mendekomposisikan bahan organik (hingga stabil) pada kondisi aerobik.  Kondisi uji yang tipikal  adalah inkubasi lima hari pada suhu 20 0C.  Karena BOD merupakan  ukuran tidak langsung dari jumlah bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis, maka ini dapat menjadi indikator jumlah oksigen terlarut  yang akan digunakan (hilang dari air) selama asimilasi biologis polutan organik secara alamiah.  Uji BOD merupakan salah satu uji yang lazim digunakan dalam evaluasi kualitas air.

e. Suspended Solid

Suspended Solid ( SS ) adalah padatan yang terkandung dalam air dan bukan merupakan larutan, bahan ini dibedakan dari padatan terlarut dengan jalan uji filtrasi laboratorium.  Satuannya adalah mg/l.  SS terdiri atas komponen settleable, floating dan non-soluble (suspensi koloidal).  SS lazimnya mengandung senyawa  organik dan anorganik.  Satu ciri dari SS adalah berkaitan dengan karakteristik turbiditas.  SS sangat penting karena pengaruhnya terhadap kualitas estetika, filtrasi (penjernihan) dan desinfeksi; dan potensial dampaknya terhadap ekosistem akuatik.  Pada umumnya air yang mengandung banyak  SS kurang bagus ditinjau dari sudut pandang estetika, lebih sulit dan mahal untuk menjernihkannya, dan memerlukan lebih banyak bahan kimia untuk dis-infeksinya.  SS yang berlebihan dapat membahayakan ikan dan jasad akuatik lainnya melalui penyelimutan insang, reduksi radiasi matahari, dan selanjutnya akan berpengaruh pada rantai makanan alami.

Konsentrasi SS (mg/l) Kategori Kualitas Lingkungan
4 Ekselen
10 Baik
15 Cukupan
20 Jelek
35 Sangat jelek

f. Nitrogen

Nitrogen merupakan unsur hara esensial yang diperlukan untuk melestarikan kehidupan akuatik.  Biasanya diukur dengan satuan mg/liter.  Secara spesifik, nitrogen anorganik dalam bentuk nitrat dan amonia tersedia untuk masuk ke dalam siklus  rantai makanan akuatik.  Nitrogen organik menjadi tersedia setelah mengalami konversi menjadi bentuk anorganik oleh aktivitas bakteri.  Limbah industri, limbah domestik dan residu pupuk dalam air limpasan dari lahan pertanian merupakan sumber utama nitrogen anorganik dalam perairan.

g. Senyawa Toksik

Berbagai macam senyawa toksik berada dalam lingkungan akuatik. Limbah yang mengandung logam berat (Hg, Cu, Ag, Pb, Ni, Co, As, Cd, Cr, dan lainnya) sendiri-sendiri atau campurannya hingga konsentrasi tertentu dapat bersifat toksik bagi manusia dan organisme lain, sehingga mempunyai dampak yang serius terhadap ekosistem.  Senyawa toksik lainnya termasuk  pestisida, senyawa ammonia, sianida, sulfida, fluorida, dan senyawa-senyawa khlor organik.

Uji bio-essay dapat digunakan untuk menyatakan konsentrasi dalam mg/l pada saat mana senyawa toksik tidak menyebabkan gangguan pada organisme uji.  Akan tetapi, efek jangka panjang dari senyawa toksik mungkin menimbulkan gangguan yang lebih berbahaya, seperti pengkerdilan pertumbuhan, penurunan fertilitas, penyimpangan fisiologis, dan pola perilaku aneh; dan ini semua dapat menyebabkan gangguan yang lebih berbahayadibandingkan dengan sekedar ekeberadaan spesies.  Demikian juga, magnifikasi biologis dan penyimpanan residu bahan pencemar yang toksik dalam kehidupan dapat mengakibatkan dampak serius.  Karena alasan ini, senyawa toksik  dapat dideteksi dalam perairan alami dengan metode canggih berupa analisis kualitas air. Dan ini dapat mengakibatkan air tidak layak bagi perbanyakan kehidupan manusia dan organisme akuatik.

h. Zat Organik

1. Alam : Tumbuh – tumbuhan, sellolusa, gula dan pati

2. sintesis : proses industri

3. fermentasi : alcohol dan asam

i. CO­2 Agresif

Co2 yang terdapat di air berasal dari udara dan hasil penguraian zat organik. Menurut bentuknya CO2 dibedakan dalam :

  1. CO2 bebas : banyaknya CO2 dalam air
  2. CO2 kesetimbangan : CO2 yang dalam air setimbang dengan HCO3
  3. CO2 agresif : CO2 yang dapat masuk bangunan, perpipaan dalam distribusi air.

j.  Kesadahan Total

Kesadahan adalah sifat air yang disebabkan oleh air karena adanya ion-ion (kation) logam valensi. Kesadahan Total kesadahan yang disebabkan adanya ion Ca2+ dan Mg2+ secara bersama sama.

k. Kalsium

Fungsi kalsium pada air bersih dalam batas tertentu dapat berfungsi sebagai penunjang pertumbuhan tulang dan gigi.

l. Besi dan Mangan

Besi adalah  logam yang menghambat proses disinfeksi. Mangan dan besi yang berlebihan menyebabkan warna air menjadi keruh.

m. Tembaga ( Cu )

Kadar Cu yang berlebihan akan menyebabkan rasa tidak enak pada lidah dan dapat menimbulkan kerusakan pada hati.

n. Seng ( Zn )

Kelebihan kadar Zn dalam air minum menyebabkan rasa pahit.

o. Chlorida ( Cl )

Kadar Cl yang berlebihan akan menyebabkan rasa asin dan korosif pada logam.

p. Flourida ( F )

kelebihan kadar flourida pada air akan menyebakan kerusakan pada gigi ( carries gigi ).

q. Nitrit

kekurangan Nitritdapat menyebabkan methamoglobinemia terutama pada bayi.

Bahan-bahan atau zat kimia yang terdapat dalam air yang IDEAL antara lain sebagai berikut :

——————————————————————-

Jenis Bahan                Kadar yang Dibenarkan (mg/liter)

——————————————————————-

Fluor (F)                                         1-1,5

Chlor (Cl)                                       250

Arsen (As)                                      0,05

Tembaga (Cu)                                1,0

Besi (Fe)                                         0,3

Zat organik                                     10

Ph (keasaman)                                6,5-9,0

CO2                                                0

——————————————————————-

  1. Syarat Bakteriologis atau Mikrobiologis

Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.

Air dapat berfungsi sebagai kendaraan untuk menyebarkan penyakit. Adanya organisme coliform dalam air dianggap sebagai bukti kontaminasi  karena organisme ini asal-usulnya  dari dalam saluran pencernaan manusia atau hewan berdarah panas lainnya.  Perlunya uji coliform terhadap suplai air menjadi semakin kurang penting karena teknologi pengolahan air bersih semakin efektif mampu melenyapkan  bakteri penyebab penyakit melalui perlakuan desinfeksi.  Akan tetapi, uji coliform terus menjadi tetap penting karena pemanfaatan air untuk jasa rekreasional melibatkan aktivitas body-contact, dan karena implikasi bahwa penyakit virus dapat ditularkan  melalui kontaminasi tinja dalam suplai air.  Jalur tidak langsung seperti kontaminasi  bahan makanan dengan air irigasi yang tercemar tinja, dan akumulasi kontaminan oleh oyster, clams, dan bangsa siput dari  perairan pantai yang tercemar tinja, terus menjadi masalah yang menarik perhatian.

  1. Syarat Radiologis

Air minum tidak boleh mengandung zat yang menghasilakan bahan bahan yang mengandung radioakti, seperti sinar alfa, beta dan gamma.

Parameter Air Bersih secara Radiologi :
1. Konduktivitas atau daya hantar ( panas )
2. Pesistivitas
3. PTT atau TDS (Kemampuan air bersih untuk menghantarkan arus listrik)

B. Persyaratan Kuantitatif

Persyaratan kuantitatif dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau dari banyaknya air baku yang tersedia. Artinya, air tersebut bernilai guna demi pemenuhan pemakainya. Dalam hal ini, jumlah air yang dibutuhkan sanagt tergantung pada tingkat kemajuan teknologi dan social ekonomi masyarakat setempat. Sebagai contoh Negara negara yang telah maju memerlukan air bersih yang lebih banyak dibandingkan dengan masyarakat di Negara Negara berkembang.

C. Persyaratan Kontinuitas

Persyaratan kontinuitas  ini sangat erat hubungannya dengan kuantitas air yang tersedia yaitu air baku yang ada di alam. Arti kontinuitas disini adalah bahwa air baku untuk air bersih tersebut dapat diambil terus menerus dengan fluktuasi debit yang relative tetap, baik pada saat musim kemarau maupun musim hujan.

  1. III. AIR MINUM

Persyaratan Air Minum :

1.Pesyaratan Fisik

Air yang berkualitas baik harus memenuhi persyaratan fisik yaitu jernih, tidak berwarna, rasanya tawar, tidak berbau, temperaturnya normal dan tidak mengandung zat padatan. Air yang tidak jernih (keruh) disebabkan oleh adanya butiran-butiran koloid dari bahan tanah liat. Semakin banyak kandungan koloid maka air semakin keruh. Air yang berwarna berarti mengandung bahan-bahan lain yang berbahaya bagi kesehatan. Secara fisika air bisa dirasakan oleh lidah. Air yang terasa asam, manis, pahit, atau asin menunjukkan bahwa kualitas air tersebut tidak baik. Rasa asin disebabkan adanya garam-garam tertentu yang larut dalam air. Sedangkan rasa asam diakibatkan adanya asam organik maupun asam anorganik.

Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila dicium dari jauh maupun dari dekat. Air yang berbau busuk mengandung bahan-bahan organik yang sedang mengalami penguraian oleh mikroorganisme air. Air yang baik harus memiliki temperatur sama dengan temperatur udara (20 – 26OC). Air yang secara mencolok mempunyai temperatur diatas atau dibawah temperatur udara berarti mengandung zat-zat tertentu, atau sedang terjadi proses tertentu yang mengeluarkan atau menyerap energi dalam air. Air minum yang baik tidak boleh mengandung zat padatan yang terapung di dalam air. Walaupun jernih, tetapi bila air mengandung padatan yang terapung maka tidak baik digunakan sebagai air minum. Apabila air di didihkan maka zat padat tersebut dapat larut sehingga menurunkan kualitas air minum.

·

2. Persyaratan Kimia

Kualitas air tergolong baik bila memenuhi persyaratan kimia seperti berikut:

a.       PH Netral

Derajat keasaman air minum harus netral, tidak boleh bersifat asam maupun basa. Air yang mempunyai PH rendah akan terasa asam. Air murni mempunyai PH 7, apabila PH air dibawah 7 berarti bersifat asam, sedangkan bila PH nya diatas 7 bersifat basa.

b.      Tidak mengandung bahan kimia beracun

Air yang berkualitas baik tidak mengandung bahan kimia beracun seperti sianida sulfida, fenolik.

c.       Tidak mengandung garam atau ion-ion logam

Air yang berkualitas baik tidak mengandung garam atau ion logam seperti Fe, Mg, Ca, K, Hg, Zn, Mn, Cl, Cr, dan lain-lain.

d.      Kesadahan rendah

Tingginya kesadahan berhubungan dengan garam-garam yang terlarut di dalam air terutama Ca dan Mg.

e.       Tidak mengandung bahan organik

Kandungan bahan organik dalam air dapat terurai menjadi zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan.

3. Persyaratan Mikrobiologi

Persayaratan mikrobiologis yang harus dipenuhi oleh air adalah sebagai berikut:

a.       Tidak mengandung bakteri patogen, misalnya bakteri golongan coli, salmorellatyphi, vibrio chlotera, dan lain-lain. Kuman-kuman ini mudah tersebar melalui air (transmetted by water).

b.      Tidak mengandung bakteri nonpatogen, seperti attinomycetes, phytoplankton, coliform, cladotera, dan lain-lain.

Penilaian Kualitas Air

Sifat fisik air dapat dianalisa secara visual dengan panca indra, misalnya keruh atau berwarna dapat langsung dilihat, bau dapat dengan hidung, rasa asam dengan lidah. Penelitian tersebut tentu saja bersifat kualitatif, misalnya bila tercium bau yang berbeda maka rasa air pun berbeda atau bila air berwarna merah maka bau yang akan tercium sudah dapat ditebak pula. Cara ini dapat digunakan menganalisa air secara sederhana karena sifat-sifat air saling berkaitan.

Derajat bau air dapat ditentukan dengan cara pengenceran. Misalnya air bau kemudia diencerkan dua kali menjadi tidak bau, berarti derajat bau air itu rendah, sebaliknya jika diencerkan berulang kali, tetapi masih saja tetap bau berarti derajat baunya tinggi.

Analisis kualitas air dapat dilakukan di laboratorium ataupun secara sederhana. Pemeriksaan di laboratorium akan menghasilkan data yang lengkap dan bersifat kuantitatif, sedangkan pemeriksaan sederhana hanya bersifat kualitatif. Pemeriksaan sederhana mempunyai keuntungan karena murah dan mudah sehingga setiap orang dapat melakukannya tanpa memerlukan bahan dan peralatan yang mahal.

Di laboratorium, kualitas air diperiksa sifat fisik dan kimia, secara fisik diperiksa derajat kekeruhan, daya hantar listrik, derajat warna, dan derajat bau. Indikator kimia meliputi pengukuran PH, kesadahan, dan kandungan bahan-bahan lainnya yang terlarut.

Tabel Air Baku Layak Konsumsi ( air minum)

  1. Sesuai dengan Peraturan Mentri Kesehatan Indonesia

Sesuai peraturan Menteri Kesehatan No.416/MenKes/Per/IX yang dapat disebut sebagai Air Minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum. Kualitas air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan mikrobiologi,fisika,kimia dan radioaktif.

Parameter-parameter yang sering diuji dan kandungan maksimum yang diizinkan dapat dilihat pada tabel berikut ini :

No. Parameter Satuan Maksimum
A.FISIKA
01. Bau - Tidak berbau
02. TDS (Total Zat Padat Terlarut) mg/l 1000
03. Kekeruhan Skala NTU 5
04. Rasa - Tidak Berasa
05. Warna Skala TCU 15
B.KIMIA
a. Kimia Anorganik
01. Air Raksa (Hg) mg/l 0.001
02. Aluminium (Al) mg/l 0.2
03. Arsen (As) mg/l 0.05
04. Besi (Fe) mg/l 0.3
05. Kesadahan (CaCO3) mg/l 500
06. Klorida mg/l 250
07. Mangan (Ma) mg/l 0.1
08. Nitrat sebagai N (NO3) mg/l 10
09. Nitrit sebagai N (NO2) mg/l 1.0
10. PH - 6.5 s/d 8.5
11. Sianida (Si) mg/l 0.1
12. Sulfat (SO4) mg/l 400
13. Tembaga (Cu) mg/l 1.0
14. Timbal (Pb) mg/l 0.05
b. Kimia Organik
01. Benzene mg/l 0.01
02. Chloroform mg/l 0.03
03. DDT mg/l 0.03
04. Detergen mg/l 0.05
05. Pestisida Total mg/l 0.10
06. Zat Organik (KMnO4) mg/l 10
C.MIKROBIOLOGI
01. E-Coli koloni/100 ml 0
02. Total Koliform koloni/100 ml 0
D.RADIOAKTIF
01. Gross Alpha Activity Bq/l 0.1
02. Gross Beta Activity Bq/l 1.0

Keterangan : mg = miligram, ml = mililiter, l = liter, Bq = Bequerel, NTU = Nephelometrik Turbidity Units, TCU = True Colour Units

Setiap negara mempunyai syarat kesehatan yang berbeda,tetapi pada umumnya parameter yang diterapkan hampir sama. Indonesia termasuk salah satu negara yang tidak terlalu ketat bila dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan Singapura.

  1. Sesuai Dengan Departemen Kesehatan

1. PH : 6,5 – 8,5

2. TDS : 1000 mg/ L

3. Kekeruhan : 5 ( Skala NTU )

4. Warna : 15 ( Skala TCU )

5. Koliform Tinja : 0 / per 100 ml

6. Total Koliform : 5 – 10 / per 100 ml

7.Kesadahan (CaCO3) : 500 mg/L

8. Besi : 0,3 mg/L

9. Mangan (Mn2+) : 0,1 mg/L

10. Almunium : 0,2 mg/L

11.Klorida : 250 mg/L

12. Sulfat : 250 mg/L

12. Nitrat (NO3) : 50 mg/L

13. Nitrit (NO2-) : 3 mg/L

14.Zat Organik (KMnO4)  : 10 mg/L

  1. IV. SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH

Sumber-Sumber Air Minum

Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber-sumber air ini, sebagai berikut :

1. Air Hujan

Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.

2. Air Sungai dan Danau

Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau ini. Kedua sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.

3. Mata Air

Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.

4. Air Sumur Dangkal

Air ini keluar dari dalam tanah maka juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air didalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum.

5. Air Sumur Dalam

Air ini berasal dari lapisan air kedua didalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan).

Pengolahan Air Minum Secara Sederhana

Seperti telah disebutkan didalam uraian terdahulu bahwa air minum yang sehat harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung (protected) sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih dahulu.

Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai berikut :

1. Pengolahan Secara Alamiah

Pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan (storage) dari air yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti air danau, air kali, air sumur dan sebagainya. Didalam penyimpanan ini air dibiarkan untuk beberapa jam di tempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.

2. Pengolahan Air dengan Menyaring

Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Lebih lanjut akan diuraikan kemudian. Penyaringan pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat dikonsumsi umum.

3. Pengolahan Air dengan Menambahkan Zat Kimia

Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah berfungsi untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya chlor).

4. Pengolahan Air dengan Mengalirkan Udara

Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.

5. Pengolahan Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih

Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari konsumennya, pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni :

Pengolahan Air Minum untuk Umum

1. Penampungan Air Hujan

Air hujan dapat ditampung didalam suatu dam (danau buatan) yang dibangun berdasarkan partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan dialirkan ke danau tersebut melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut dibuat sumur pompa atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat ditampung dengan bak-bak ferosemen dan disekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air untuk umum.

Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban keluarga-keluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut.

2. Pengolahan Air Sungai

Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I melalui saringan kasar yang dapat memisahkan benda-benda padat dalam partikel besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang terdiri dari ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II. Disini dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan diminum masih memerlukan direbus terlebih dahulu.

3. Pengolahan Mata Air

Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu dikelola dengan melindungi sumber mata air tersebut agar tidak tercemar oleh kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri ke sumber yang sudah terlindungi tersebut.

Pengolahan Air Untuk Rumah Tangga

1.Air Sumur

Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah cukup memenuhi persyaratan kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan masih mahal, disamping itu teknologi masih dianggap tinggi untuk masyarakat pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah sumur gali.

Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh kotoran di sekitarnya, perlu adanya syarat-syarat sebagai berikut :

- Harus ada bibir sumur agar bila musim hujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke

dalamnya.

- Pada bagian atas kurang lebih 3 m dari permukaan tanah harus ditembok, agar

air dari atas tidak dapat mengotori air sumur.

- Perlu diberi lapisan kerikil di bagian bawah sumur tersebut untuk mengurangi

kekeruhan.

Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat dimasukkan suatu zat yang dapat membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat (tawas).

Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan menyaringnya dengan saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.

2. Air Hujan

Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan melalui penampungan air hujan. Tiap-tiap keluarga dapat melakukan penampungan air hujan dari atapnya masing-masing melalui aliran talang. Pada musim hujan hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau mungkin menjadi masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air hujan yang lebih besar agar mempunyai tandon (storage) untuk musim kemarau.

  1. V. BANGUNAN PENGOLAHAN AIR MINUM

1.INTAKE

Intake adalah bangunan pengambilan air baku untuk penyediaan air bersih dengan cara penangkapan air. Kapasitas intake di sesuaikan dengan debit yang diperlukan untuk pengolahan. Fungsi utama bangunan intake adalah untuk menangkap air dari sumber air untuk diolah dalam istalasi pengolahan air bersih

  1. Air baku dari air permukaan

A . River Intake

River intake adaah bengunan yang berfungsi sebagai penyadapan air baku yang berasal dari sungai atau danau.

B. Direct Intake

Direct intake hanya digunakan apabila muka-muka air baku sangat dalam. Tipe direct intake ini dapat digunakan dalam kondisi :

-          Sumber air yang dalam : sungai luas dan dalam , danau dan laut

-          Tanggul sangat resisten terhadap erosi dan sidimentasi

C. Canal Intake

Canal intake dipergunakan apabila air baku disadap dari kanal. Suatu bak memiliki bukaan dibangun pada satu sisi dari tanggul kanal,  yang dilengkapi saringan kasar. Dari bak air dialirkan melalui pipa yang memiliki ujung berbentuk bell mouth yang tertutup saringan berbentuk parabola.

D. Reservior Intake ( Dam / Bendungan )

Reservoir intake digunakan untuk air baku yang diambil dari danau, baik yang alamiah maupun buatan ( beton ). Bangunan ini dilengkapi dengan beberapa inlet dengan ketinggian yang bervariasi untuk mengatasi fluktuasi muka air. Dapat juga dibuat menara intake yang terpisah dengan Dam pada bagian upstream. Jika air di reservoir mengalir secara gravitasi ke pengolahanm,  maka tidak diperlukan pemompaan dari menara.

  1. Air baku dari Mata Air

A.Spring Intake ( bround captering )

Spring intake digunakan untuk air yang diambil dari amat air. Dalam pengumpulan mata air, hendaknya dijaga supaya kondisi tanah tidak

terganggu.

back to nature

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.